Pengembangan Bahan Ajar Matematika Dalam Pembelajaran Probing Prompting

Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Jenis bahan ajar yang akan dibahas pada makalah ini adalah lembar kegiatan siswa (LKS).

Lembar kegiatan siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa (Inra, 2010). Lembar kegiatan berisi petunjuk dan langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya. Tugas-tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh siswa secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa dapat berupa teori dan atau praktik. Keuntungan adanya lembar kegiatan bagi guru adalah memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, sedangkan bagi siswa dapat membuat siswa belajar mandiri, belajar memahami, dan menjalankan tugas tertulis. Dalam menyiapkannya guru harus cermat, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, karena sebuah lembar kegiatan harus memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai atau tidaknya sebuah kompetensi dasar yang dikuasai oleh siswa.

Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa dalam pembelajaran probing prompting adalah sebagai berikut:

1. Melakukan analisis kurikulum, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan materi pembelajaran.

Analisis kurikulum dimaksudkan untuk menentukan materi-materi mana yang memerlukan bahan ajar LKS sesuai dengan pembelajaran probing prompting. Biasanya dalam menentukan materi dianalisis dengan cara melihat materi pokok dan pengalaman belajar dari materi yang akan diajarkan, kemudian kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa.

2. Menyusun peta kebutuhan LKS.

Peta kebutuhan LKS sangat diperlukan guna mengetahui jumlah LKS yang harus ditulis dan sekuensi atau urutan LKS-nya juga dapat dilihat. Urutan LKS ini sangat diperlukan dalam menentukan prioritas penulisan. Diawali dengan kurikulum dan analisis sumber belajar.

3. Menentukan judul LKS.

Judul LKS ditentukan atas dasar kompetensi-kompetensi dasar, materi-materi pokok atau pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum. Satu kompetensi dapat dijadikan sebagai judul apabila kompetensi itu tidak terlalu besar, sedangkan besarnya kompetensi dasar dapat dideteksi antara lain dengan cara apabila diuraikan ke dalam materi pokok mendapatkan maksimal 4 materi pokok, maka kompetensi itu telah dapat dijadikan sebagai satu judul LKS. Namun apabila diuraikan menjadi lebih dari 4 materi pokok, maka perlu dipikirkan kembali apakah perlu dipecah misalnya menjadi 2 judul LKS.

4. Menulis LKS.

Penulisan LKS dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a) Perumusan Kompetensi Dasar yang harus dikuasai

Rumusan kompetensi dasar pada suatu LKS langsung dari buku Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

b) Menentukan alat Penilaian

Penilaian dilakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja siswa. Karena pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi, dimana penilaiannya didasarkan pada penguasaan kompetensi, maka alat penilaian yang cocok adalah menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criterion Referenced Assesment. Dengan demikian guru dapat menilainya melalui proses dan hasil kerjanya.

c) Penyusunan Materi

Materi LKS sangat tergantung pada kompetensi dasar yang akan dicapai. Materi LKS dapat berupa informasi pendukung, yaitu gambaran umum atau ruang lingkup substansi yang akan dipelajari. Materi dapat diambil dari berbagai sumber seperti buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian. Agar pemahaman siswa terhadap materi lebih kuat, maka dalam LKS ditunjukkan referensi yang digunakan agar siswa membaca lebih jauh tentang materi itu. Tugas-tugas harus ditulis secara jelas guna mengurangi pertanyaan dari siswa tentang hal-hal yang seharusnya siswa dapat melakukannya, misalnya tentang tugas diskusi. Judul diskusi diberikan secara jelas dan didiskusikan dengan siapa, berapa orang dalam kelompok diskusi dan berapa lama. Dengan pembelajaran probing prompting, pertanyaan atau tugas yang dituliskan harus dapat menuntun dan menggali kemampuan siswa yang mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan baru dalam menemukan suatu konsep atas rumusan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.

Struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut:

1. Judul, mata pelajaran, semester, tempat

2. Petunjuk belajar

3. Kompetensi yang akan dicapai

4. Indikator

5. Informasi pendukung

6. Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja

7. Penilaian

Bahan ajar yang digunakan dalam penulisan ini disusun berdasarkan KTSP. Secara lengkap Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator disajikan pada tabel berikut.

Standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator

Standar kompetensi Kompetensi dasar Indikator
6. Memahami barisan dan deret bilangan serta penggunaannya dalam pemecahan masalah 6.1 Menentukan pola barisan bilangan sederhana.
  • Menganalisis unsur-unsur barisan dan deret, misalnya; suku pertama, suku berikutnya, suku ke –n, beda, rasio.
  • Menentukan pola barisan bilangan.
6.2 Menentukan suku ke-n barisan aritmatika dan barisan geometri
  • Menganalisis pengertian barisan aritmatika dan barisan geometri.
  • Menentukan rumus suku ke-n barisan aritmatika dan barisan geometri.
6.3 Menentukan jumlah n suku pertama deret aritmatika dan deret geometri
  • Menganalisis pengertian deret aritmatika dan deret geometri naik atau turun.
  • Menentukan rumus jumlah n suku pertama deret aritmetika dan deret geometri.
6.4 Memecahkan masalah yang berkaitan dengan barisan dan deret
  • Menggunakan sifat-sifat dan rumus pada deret aritmetika dan deret geometri untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan deret.

Bahan ajar dirancang dalam bentuk lembar kegiatan siswa (LKS). LKS yang disusun diharapkan mampu menuntun siswa untuk dapat memahami barisan dan deret bilangan serta penggunaannya dalam pemecahan masalah sesuai dengan indikator yang ingin dicapai.

Instrumen Pembelajaran

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana pelaksanaan pembelajaran dibuat tiap kompetensi dasar dan mencakup satu kali pertemuan. RPP ini memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pembelajaran matematika, metode pembelajaran matematika, dan kegiatan pembelajaran matematika.

2. Bahan Ajar (Lembar Kegiatan Siswa atau LKS)

Bahan ajar berbentuk LKS ini memuat materi yang harus diisi oleh siswa. Penyajian materi LKS ini menuntut siswa menggunakan kemampuan matematika untuk memahami materi dan menemukan rumus sesuai dengan konsep yang telah diperoleh sebelumnya.

Sumber:

Inra, A. R. (2010). Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar. Tersedia: http://arons04.blogspot.com/2010/01/pedoman-umum-pengembangan-bahan-ajar.html

About yuaayu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: